KISAH : Hati yg Kuat, Menyembunyikan Duka & Lara

Leave a comment

July 22, 2015 by MsDailyLife

Jakarta, 22 Juli 2015.

Ini kisah tentang sebuah hati yang terluka tapi dia menyembunyikannya dari semua hati yang lain sehingga terlihat bahwa hatinyalah yang paling kuat. Dia menyembunyikan semua lukanya dengan baik. Nyaris sempurna. Darah yang meleleh dibalutnya dengan kain yang indah. Menjadikan hati itu terlihat lebih berwarna. Dia menyembunyikan cerita-cerita sedihnya disebuah buku. Dituliskannya semua yang pernah dirasakannya di sana. Kegalauan, kebodohan, dan kemunafikan yang menjadi temannya selama ini. Dituliskan segala yang dia alami dan dibakarnya. Abunya disimpannya di tepian karang.

Suatu hari dia bertemu hati yang lain. Hati yang tidak tertebak seperti apa. Hati itu bertanya mengapa meletakkan abu itu di sana. Lalu hati yang terluka menjawab “ombak akan datang setiap hari, mengikisnya dan abu ini akan hilang”. Hati yang datar memandangnya. Lalu dia berkata “kalau begitu buang saja abu itu ke lautan lepas, air akan menenggelamkannya dan dia larut. Dia akan hilang”. Mereka terdiam. Hati yang terluka menurutinya. Dan abu itu dibuangnya ke lautan lepas.

Sejak saat itu mereka menjadi teman dekat. Mereka sering berdetak dengan irama yang sama. Dan mereka jatuh cinta. Hati yang terluka itu semakin terlihat kuat. Dia nyaris sempurna menyembunyikan lukanya. Dan hati yang datar sudah tidak datar lagi. Dia berundak-undak. Menjadi tajam dan kasar. Dan dia melukai hati yang terlihat kuat itu. Dia tidak sengaja menusuk hati yang terluka itu karena terlalu erat memeluknya. Darah mengalir deras. Tidak berhenti dan hati itu menangis. Merengek seperti anak kecil tapi hati yang datar itu tidak tahu bagaimana cara menghentikan darah itu, meredakan tangisnya. Dia terlalu datar sehingga tidak peka dan mengerti sakitnya sebuah luka. Dia panik. Dibawanya hati yang terluka itu menuju lautan lepas. Tempat mereka membuang abu kelam milik hati yang telah disakitinya. Dia berkata “kau adalah hati terkuat yang pernah ku temui. Sekarang kau berdarah dan merengek seperti orang yang lemah. Berhentilah. Meloncatlah ke dalam. Air garam akan merembes masuk ke dalam lukamu dan darahmu akan berhenti mengalir. Itu akan perih tapi itu akan menghentikan darahmu dan percayalah padaku aku akan menarikmu kembali sebelum perih itu menggerogoti seluruh bagianmu”.

Hati yang terluka dan terlihat kuat itu percaya. Dengan penuh harapan dia meloncat ke dalam lautan. Dia merasakan air laut yang asin merembes masuk ke dalam lukanya. Perih. Perih sekali. Dia tak mampu. Dicobanya mengapung. Menengadah mencari-cari hati yang dicintainya. Tapi dia tak ada di sana. Dia bohong. Dia meninggalkannya di lautan itu. Membiarkannya terapung dan terombang ambing. Hati itu menangis sejadi-jadinya. Dibenamkannya seluruh bagiannya. Dikutuknya dirinya yang terlalu polos. Dia mempercayai hati yang salah. Hati yang datar tapi tajam. Hati yang mengajarinya kemunafikan sempurna. Hati yang mendorongnya ke dalam lautan terperih yang sungguh amat menyiksa. “Oh tuhan.. ke mana lagi ku sembunyikan lukaku sekarang ?..” dia meratap sejadi-jadinya. Ratapan malang penuh penyesalan. Dia telah kehilangan keindahannya. Dia tenggelam. Semakin jauh ke dasar laut. Dan di dasar laut itu ditemuinya abu yang pernah dibuangnya. Sekali lagi dia dibohongi.. abu dari luka dan penderitaan tak pernah bisa larut oleh air. Dia semakin terpuruk. Dia sangat malang dan sangat terkutuklah hati yang datar itu. Yang meninggalkannya di dasar laut bersama luka perih dan butiran debu kelamnya. Dia menjadi hati yang penuh duka dan lara. Diam di dasar laut dengan memeluk debu-debunya. Dia kembali terjatuh. Dan kali ini dicampakkan ke dasar laut penuh keperihan. Dia tak akan mati.. karena dia adalah hati yang kuat. Yang mampu menybunyikan duka dan laranya.

'Diantara tanda keikhlasan seseorang adalah ia semakin gembira dan bahagia tatkala semakin tidak ada orang yang melihat atau mengetahui amalan shaleh/shalehah yang ia kerjakan." - Ustadz Firanda Andirja, MA).

‘Diantara tanda keikhlasan seseorang adalah ia semakin gembira dan bahagia tatkala semakin tidak ada orang yang melihat atau mengetahui amalan shaleh/shalehah yang ia kerjakan.” – Ustadz Firanda Andirja, MA).

– Sekian –

==========================================
Apabila ada kemiripan cerita, mohon maaf dan tidak ada bermaksud apapun.
Segala cerita mempunyai Hikmah pelajaran sesama antar umat Manusia. 

Terima kasih 🙂

Wassalamuallaikuum Wr. Wbr.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: