Wanita Makin Diperhitungkan

Leave a comment

June 21, 2014 by MsDailyLife

Ketika langit-langit kaca bukan lagi menjadi masalah, apa yang diinginkan wanita Indonesia masa kini ?

Jkt, ID – Memang begitu banyak wanita yang memiliki peran besar, baik dalam hal karier maupun di kehidupan sosial. Banyak pula wanita yang sengaja memilih berperan sebagai ibu rumah tangga. Wanita Indonesia (baik dulu hingga sekarang) adalah sosok-sosok yang selalu di persimpangan jalan, antara nilai-nilai yang dianggap tradisional dan modern.

Wanita Indonesia itu…

Salah satu topik yang tidak bisa ditinggalkan bila bicara tentang wanita Indonesia adalah peran ganda. Tidak bisa dipungkiri, makin banyak wanita yang bekerja di luar rumah.

srimulyaniSejak tahun 1970-an wanita Indonesia memang sudah mulai berkiprah di ranah publik. Banyak hal yang menjadi faktor pendorong. Salah satunya menyebut bahwa hal itu dipengaruhi oleh gerakan Women’s Liberation Front (gerakan yang menuntut kesetaraan) yang berkembang pesat di negara-negara industri eropa dan Amerika Serikat sejak pertengahan tahun ’60-an.

Saat ini, hampir semua bidang pekerjaan bisa dimasuki wanita. Apalagi dengan perkembangan teknologi, pekerjaan yang dulu digambarkan membutuhkan kekuatan otot pria, kini bisa ‘diringankan’ sehingga wanita pun bisa melakukannya.

wanita Indonesia kini memang memiliki banyak pilihan, entah itu berkirpah di publik maupun bila ingin menjadi Ibu rumah tangga di rumah.

Kondisi ekonomi memungkinakan wanita mendapatkan pendidikan tinggi, dan dengan adanya akses terhadap informasi, mereka memiliki referensi ketika harus mengambil keputusan yang sesuai bagi diri mereka.

Karena itu, wanita dari golongan ekonomi yang kuat ini bisa mengambil keputusan yang sesuai keinginan. Pilihan dalam pekerjaan maupun pilihan untuk bekerja atau tidak, lebih pada keinginan pribadi. Pendidikan yang tinggi juga tak menghalangi mereka untuk memilih menjadi ibu rumah tangga, atau meninggalkan karier agar fokus mengurus anak dan rumah tangganya.

F7B1668D-27FB-41A6-8443-8EC4AF9B298D_mw1024_s_n

Apa pun pilihan itu, masyarakat (terutama) di kota besar) secara kultural bisa menerima bahwa wanita memiliki akses dan kesempatan yang setara dengan pria untuk bekerja di berbagai bidang. Tetapi, wanita masih harus juggling untuk menyeimbangkan dua tanggung jawab yang harus dipikul.

This slideshow requires JavaScript.

Budaya patriarkat yang masih mengakar menempatkan wanita yang bekerja harus memanggul beban ganda : pencari nafkah sekaligus penanggung jawab domestik. Hal ini jamak diketahui. Ketika wanita dibenturkan pada masalah yang membuat ia harus memilih : karier atau keluarga, banyak wanita yang akan memilih mundur dari pekerjaannya.

Value, Ambisi, dan Strategi

Dalam hal karier, menunjukkan, wanita Indonesia percaya dirinya bisa diandalkan seperti halnya kolega pria di posisi senior. Wanita juga sama ambisiusnya dengan pria, dan wanita cukup yakin secara kemampuan wanita bisa menjabat sebagai CEO.

Namun, dalam kenyataannya, wanita karier banyak berguguran, terutama di tingkat middle management ke atas. Apakah ini berarti langit-langit kaca itu masih ada ?

tri-rismaharini02

Rintangan yang dihadapai wanita masih sangat besar. mendorong kiprah wanita di peran publik pastinya perlu support, baik itu dari kebijakan pemerintah maupun perusahaan. Kurangnya kebijakan yang pro keluarga (seperti flexi work time, infrastruktur perkantoran yang dekat dengan rumah, fasilitas tempat penitipan anak, dan lainnya) turut memengaruhi tingginya angka wanita yang berguguran dari pekerjaan.

Selain faktor luar, ada hal lain yang lebih besar yang harus ‘diselesaikan’ oleh wanita, yakni faktor internal. Masih ada sebagian wanita yang takut pada bayangannya sendiri, karier sukses = keluarga berantakan. <- naaahh, yang seperti ini nih sering kita jumpai dalam kehidupan sosial.

Dalam soal pembagian peran misalnya, harus diakui, banyak wanita yang masih berpikiran tradisional. Di dunia Barat, fleksibilitas peran itu lebih lazim karena konstruksi sosial yang patriarkat tidak sekaku di Indonesia. Kalau di Indonesia, justru si wanita masih malu jika suaminya tidak bekerja (saya pribadi pun, apabila suami saya tidak bekerja pasti akan merasa malu…).

Ini sepertinya tamparan telak. Apa yang saya katakan memang banyak nyatanya terjadi. Sementara wanita menuntut perlakuan sama, namun disisi lain banyak yang justru belum siap jika pria pasangannya mengambil peran benar-benar sebagai ‘bapak rumah tangga’.

Oleh karena itu, penting untuk mulai menegosiasikan hal-hal pembagian peran. Inilah yang disebut pemikiran modern, yaitu bagaimana mereka bisa memanfaatkan sumber daya yang ada dalam memecahkan problem yang ditemui.

Wanita Indonesia pada dasarnya elalu berada di persimpangan jalan, yaitu antara memegang nilai-nilai tradisional sekaligus ingin merangkum nilai-nilai modernitas.

Apa sajakah nilai-nilai yang dianggap tradisional itu ?

  • Nilai tradisional kita, adalah hal-hal yang berkaitan dengan hubungan kekeluargaan. Yang kita anggap tradisional itu bisa bermacam-macam. Juga bisa berarti campur tangan orang tua yang lebih dominan. Nilai tradisional maupun modern ada plus minusnya masing-masing.

Saya juga melihat, wanita sekarang memilih berstrategi menyiasati perbenturan antara modern dan tradisional. Di tengah budaya masyarakat yang kolektif, wanita masih mau mengikuti apa yang diwajibkan secara sosial, tetapi di sisi lain tetap beraktualisasi, berkarier, menjalankan bisnis sendiri, dan lainnya.

Kita sudah maju, itu betul! tetapi, saya kira kita selalu menemukan persimpangan. Itu memang dinamikanya. Artikulasi antara modernitas dan tradisional. Berbagai kompromi yang dilakukan, antara berbagai unsur tradisional dan moderen, bisa situasional bisa kontekstual.

Pada era 20 – 30 tahun lalu, mungkin kalau orang melihat seseorang terlibat pergaulan bebas, maka ia akan dianggap tidak bernilai. Menurut saya, letak kedewasaan atau modernitasnya adalah keterbukaan untuk menerima nilai yang berbeda dan tanpa judgemental. Hal ini juga bisa dipengaruhi oleh kemudahan dalam mengakses berbagai informasi.

3S9K6675_filtered

Bisa dikatakan, orang yang modern sebetulnya adalah orang yang bisa menimbang nilai-nilai tradisional yang dianggap baik dalam kehidupannya. Buat wanita-wanita, nilai-nilai tradisional atau modern itu adalah pilihan hidup saja. Mereka lebih siap menerima bahwa dunia itu berbeda, orang ituberbeda, nilai itu beragam, sehingga baik buruk itu menjadi sangat relatif. Sebenarnya, akses terhadap orang-orang yang beragam itu adalah tantangan dalam dunia modern.

Jika benar kita sedang berada di persimpangan jalan, sebenarnya keputusan memilih ada di tangan kita sendiri.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: