Kenapa ELPIJI Naik Lagi ?

Leave a comment

January 6, 2014 by MsDailyLife

Kenapa Elpiji naik lagi ?

PT Pertamina memutuskan menaikkan harga Elpiji (LPG) non subsidi kemasan 12 kilogram (kg). Alasan kenaikan LPG karena tingginya harga pokok LPG di pasar dan turunnya nilai tukar rupiah yang menyebabkan kerugian perusahaan.

Menurut Pertamina, harga yang berlaku saat ini merupakan harga yang ditetapkan pada Oktober 2009 yaitu Rp 5.850 per kg, sedangkan harga pokok perolehan kini telah mencapai Rp 10.785 per kg.

Oleh karena itu, terhitung mulai 1 Januari 2014 pukul 00.00 Pertamina memberlakukan harga baru Elpiji non subsidi kemasan 12 kg dengan rata-rata kenaikan di tingkat konsumen sebesar Rp 3.959 per kg. Kenaikan Rp 3.959 per kg tersebut, maka kenaikan harga per tabung elpiji 12 kg mencapai Rp 47.508. Dengan demikian, harga elpiji 12 kg akan menjadi Rp 117.708 per tabung.

Namun di level pengecer, harga LPG saat ini sudah tembus di atas harga Rp 150.000 untuk 12 Kg dari yang awalnya berada di kisaran Rp 75.000. Bahkan di Papua melaporkan kalau harga LPG 12 kg disana sudah menyentuh harga Rp 300 ribu-an. Artinya Pertamina tidak bisa memastikan pembentukan harga baru di level eceran.

Apa yang salah dengan kenaikan itu ?

Indonesia adalah negara yang kaya sumber daya alam gas. Cadangan gas bumi negara kita mencapai 152,89 triliun standard cubic feet (TSCF). Dengan produksi gas per tahun sebesar 471.507 MMSCF, maka gas di perut bumi bisa dikonsumsi lebih dari 40 tahun lagi. Jika Indonesia rajin mencari cadangan lagi, maka dimungkinkan cadangan baru akan ditemukan lagi.

Seharusnya seluruh rakyat Indonesia bisa menikmati elpji dengan harga murah. Bukan hanya konsumen elpiji 3 kg subsidi saja, tapi konsumen non subsidi seperti 12 kg dan industri juga pantas mendapatkan harga murah. Negara seperti Singapura mau membeli gas dengan harga mahal dari Indonesia, untuk kemudian dijual murah bagi ke industrinya.

Sebagai negara terbesar pemroduksi gas, Indonesia harus membayar lebih mahal untuk elpiji ? Apakah  Indonesia salah kelola sumber daya alamnya? Sejatinya yang terjadi adalah sebagian besar produksi gas Indonesia justru diekspor. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, Pertamina melakukan impor.

Menurut data, 50 % kebutuhan gas elpiji nasional masih diimpor dari negara lain, terutama dari wilayah Arab Saudi khususnya dari perusahaan Saudi Aramco. Sehingga jika harga elpiji internasional naik, sesuai patokan contract price (CP) Aramco, maka harga elpiji dalam negeri juga naik. Begitu juga jika dolar naik, maka elpiji yang kita impor itupun akan naik sesuai harga dolar. (Sumber : KOMPAS)

Metha, ID – Di sinilah IRONIS nya Bangsa ku INDONESIA, yang sejatinya pemilik gas yang berlimpah DIPAKSA membayar elpiji dengan harga internasional. SANGAT JELAS membuat RAKYAT semakin SENGSARA. Sungguh amat dan teramat IRONIS !!!

Saya mengutip apa yang dikatakan Pak Fadli Zon, bahwa dengan adanya kenaikan LPG ini merupakan BUKTI pemerintahan SBY ini adalah NEOLIB. Kenaikan harga LPG disebabkan karena sebanyak 57 persen LPG Indonesia berasal dari impor. Sementara 12 persen lainnya didapat dari hasil kilang minyak Pertamina, dan 31 persen dari perusahaan swasta domestik.

“Tingginya impor mengakibatkan LPG 12 Kg terpengaruh nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika. Ini bukti praktik neoliberal. Pengelolaan minyak dan gas Indonesia hancur berantakan,” kata Fadli Zon.

Fadli menilai aneh alasan pemerintah, yang mengatakan tidak bisa mengintervensi Pertamina dalam menentukan harga jual LPG 12 Kg. Padahal dengan kepemilikan 100 persen saham di Pertamina, pemerintah seharusnya bisa mengatur harga jual LPG 12 Kg agar tidak naik dan membebani rakyat.

Fadli pun mengingatkan kembali amanat Pasal 33 UUD 1945 dan putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait uji materi UU No. 22/2001 tentang Minyak dan Gas Bumi yang menyatakan bahwa campur tangan Pemerintah dalam kebijakan penentuan harga haruslah menjadi kewenangan yang diutamakan untuk cabang produksi yang penting dan/atau menguasai hajat hidup orang banyak.

Dengan tindakan keputusan LPG naik ini, TERAMAT JELAS Bangsa ini mengalami KENAIKAN yang TINGGI akan jumlah orang miskin. Mencermati keseriusan Pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu dibawah nakhkoda Presiden Sby, tidak semesti nya jumlah orang miskin jadi membengkak di negara kita. Semangat mengurangi kemiskinan, bukan hanya sekedar kemauan politik, dapat diejawantahkan pula lewat kebijakan, strategi dan program yang digarap Pemerintah. Secara kelembagaan pun Pemerintah tampil sungguh-sungguh. Dengan ditetapkan nya “lembaga non struktural” dalam bentuk Tim Koordinasi Penangulangan Kemiskinan (TKPK) di masing-masing jenjang Pemerintahan, harus nya kemiskinan dapat kita turunkan secara signifikan. Aneh nya harapan itu sukar diwujudkan.

Secara politik, pengumuman membengkak nya jumlah orang miskin di ujung kepemimpinan Presiden Sby, sungguh sangat merugikan. Kesan bahwa Pemerintah gagal mewujudkan target pengurangan kemiskinan, kini menjadi sasaran tembak yang sangat empuk bagi lawan-lawan politik Presiden Sby dan Partai Demokrat nya. Keterpurukan Partai Demokrat menjadi semakin lengkap. Sebelum nya elektabilitas Partai Demokrat melorot karena ada nya ulah dan tingkah polah kader-kader terbaik nya yang terjerat kasus korupsi, dan kini dengan semakin meningkat nya jumlah orang miskin, makin memberi bukti kepada rakyat tentang ketidak-becusan nya Pemerintah mewujudkan program-program monumental nya.

BOHONG dan DUSTA berat kalau Karen Agustiawan, dirut Pertamina, bilang ada kerugian’ Pertamina & sektor energi, sehingga perlu subsidi, nyatanya sebagian besar adalah biaya KKN, Mafia Migas, dan ineffisiensi.

Nyatanya, PERTAMINA bernafsu membangun Menara Tertinggi ke-5 di Dunia dengan 99 lantai!! Apa kah dengan tujuan LPG dinaikkan, demi OBSESI untuk urusan ini kah ??!!

Pepatah MARIO TEGUH, mengatakan

Raja yang tidak jujur atau korup itu seperti joki yang menunggangi buaya. Untuk selamat dia tidak boleh turun!” 

Sekarang ini, sangat jelas masyarakat justru memandang negatif langkah yang dilakukan SBY dan kader Demokrat lainnya yang menolak kenaikan harga gas tersebut. Karena, publik melihat pemerintah tidak memiliki kebijakan yang terpadu dan terkesan pemerintah membatalkan kebijakan pemerintah.

Ada “Tipu Muslihat” SBY Terendus di Balik Kenaikan Harga Gas Elpiji?

Kebijakan PT Pertamina (Persero) menaikkan harga gas elpiji non subsidi kemasan 12 kg dinilai hanya akal-akalan. Untuk kursi kekuasaan, segala merk lipstik dan gincu diborong dan dipoles ke bibir, sampai kelihatan norak.

Perpres fasilitas pengobatan pejabat ke luar negeri diteken oleh Presiden RI untuk tujuan dicabut oleh SBY. Biar kelihatan tegas dan merakyat.

“Masih percaya sama pemilu 2014 sebagai jawaban perubahan nasib? Tak mau bersatu untuk revolusi dan SI MPRS berdasarkan pancasila dan UUD 1945? Silahkan saja lanjutkan penderitaan dan kedongkolannya,” tegas Koordinator Petisi 28, Haris Rusly.

Sumber : Kompas, TVOne, Metro, BeritaSatu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: